twins (End) - chapter 1 - Wattpad
twins (End)
oleh sasaaa1024
Daftar isi
- chapter 1
- chapter 2
- chapter 3
- chapter 4
- chapter 5
- chapter 6
- chapter 7
- chapter 8
- chapter 9
- chapter 10
- chapter 11
- chapter 12
- chapter 13
- chapter 14
- chapter 15
- chapter 16
- chapter 17
- chapter 18
- chapter 19
- chapter 20
- chapter 21
- chapter 22
- chapter 23
- chapter 24
- chapter 25
- chapter 26
- chapter 27
- chapter 28
- chapter 29
- chapter 30
- chapter 31
- chapter 32
- chapter 33
- chapter 34
- 𝕔𝕙𝕒𝕡𝕥𝕖𝕣 𝟛𝟝
- 𝕔𝕙𝕒𝕡𝕥𝕖𝕣 𝟛𝟞
- 𝕓𝕦𝕜𝕒𝕟 𝕦𝕡!
- 𝕔𝕙𝕒𝕡𝕥𝕖𝕣 𝟛𝟟
- 𝕔𝕙𝕒𝕡𝕥𝕖𝕣 𝟛𝟠
- 𝕔𝕙𝕒𝕡𝕥𝕖𝕣 𝟜𝟘
- 𝕔𝕙𝕒𝕡𝕥𝕖𝕣 𝟜𝟙
- 𝕔𝕙𝕒𝕡𝕥𝕖𝕣 𝟜𝟚
- 𝕔𝕙𝕒𝕡𝕥𝕖𝕣 𝟜𝟛
- 𝕔𝕙𝕒𝕡𝕥𝕖𝕣 𝟜𝟜
- 𝔼ℕ𝔻
Keluarga Sibuk yang Tetap Punya Waktu
Di meja makan, Jennie-ibu mereka, model papan atas-sedang memoles riasan tipis sambil membuka jadwal photoshoot.
Taehyung, ayah mereka, CEO muda dengan jadwal yang super padat, sedang membaca laporan perusahaan.
Meski sibuk, mereka selalu menyempatkan sarapan bersama. Itu aturan keluarga. Jennie selalu bilang: "Kesibukan nggak boleh membuat kita lupa pulang."
"Sean, minggu depan olimpiade matematika lagi, ya?" tanya Taehyung tanpa melepas tatapan dari tablet.
"Iya, Appa," jawab Sean sopan.
Jennie tersenyum bangga. "Abang kamu ini memang jenius," katanya pada Kean.
Kean mengunyah roti sambil nyengir. "Kean jago juga kok... cuma bukan di angka."
"Jago di BK," Taehyung menambahkan santai.
Kean tersedak. "Appa! Itu fitnah!"
Jennie menahan ketawa. "Kean, kamu tuh bikin Umma panik tiap ada panggilan BK, tau."
Kean menggerutu. "Itu gara-gara Martin sama Junghon ngajak bolos lari pagi..."
"Kean." Suara Sean muncul-tenang tapi tegas.
Sekali dengar, Kean langsung diam. Jennie dan Taehyung saling melirik bangga. Mereka tahu, kalau bukan karena Sean, mereka mungkin harus menghadapi guru BK setiap minggu.
Sekolah: Dua Dunia Berbeda
Begitu turun dari mobil, Kean langsung diserbu dua sahabatnya.
"KEAN, BROOO!" teriak Martin sambil menjitak kepala Kean pelan.
"Latihan jadi nggak?" tanya Junghon.
"Ya jadi lah. Basket mah nomor satu!" Kean membalas sambil merangkul dua temannya.
Kean itu anak populer: rame, atletis, impulsif, dan hobi bikin guru geleng-geleng kepala.
Sementara itu, Sean berjalan lebih tenang di sisi lain lapangan bersama sahabatnya, James.
"Kamu udah selesai proposal riset itu?" tanya James.
"Sudah. Tinggal revisi sedikit."
"Kamu cepat banget, Bang," sahut James-karena Sean di sekolah memang dipanggil "Bang Sean."
Sean mengangguk. "Aku kerjain pas Kean tidur siang."
James terkekeh. "Kamu tuh kakak atau bodyguard Kean sih?"
"Dua-duanya."
Protektif vs Kacau
Di lapangan, latihan basket berjalan panas. Kean hampir adu mulut dengan anak kelas sebelah gara-gara bola hampir direbut kasar.
"KEAN, SANTAI COY!" Martin panik.
"Bro jangan mulai!" Junghon ikut menahan bahunya.
Kean sudah siap ngamuk ketika suara yang dia paling takut sekaligus paling dia sayangi terdengar:
"Kean."
Cuma satu kata itu. Dan langsung seperti tombol pause.
Kean menoleh. "Abang... dia yang mulai duluan."
"Tapi kamu yang mau masuk BK duluan," balas Sean dingin.
Martin berbisik ke Junghon, "Kalau Abang Sean udah datang... tamat."
Sean mendekat, memegang bahu Kean, memastikan adiknya menatapnya.
"Jangan bikin Appa sama Umma kepanggil lagi. Mereka capek, tapi selalu sempatin waktu buat kita. Jangan nambah beban."
Kean menunduk, tapi suaranya pelan, jinak-hanya untuk Sean. "Iya, Bang..."
Sean mengusap kepala Kean sebentar. Gerakan kecil, tapi cukup bikin Kean tenang.
Di balik sifat manja dan sering bermasalahnya, cuma Sean yang tahu satu hal:
Kean sebenarnya cepat nurut. Asal yang bilang itu Abangnya.
chapter 1 selesai