Hipotesis Hari [TELAH TERBIT] - Sebuah Surat dari Hujan - Wattpad
Hipotesis Hari [TELAH TERBIT]
oleh MoonbyRunae
Daftar isi
- Sebuah Surat dari Hujan
- Sisa Api yang Tak Padam
- Taman Bunga
- Hujan di Bahumu
- Malam yang Belum Usai
- Halte di Ujung Senja
- Ombak yang Membawa Namamu
- Surat dari Dinding yang Retak
- Takdir yang Terikat
- Bayangan di Balik Cermin
- Kita yang Tak Pernah Jadi Apa-apa
- Sunyi di Ujung Nama
- Di Peron yang Sama
- Potret Di balik Rajutan
- Di Halaman Terakhir
- Nada Terakhir di Ujung Kabel
- Sesap Senja Terakhir
- Jeda untuk Pulih
- Teras Negeri Sunyi
- Ucapan Terima Kasih
Hipotesis Hari [TELAH TERBIT]
Sembilan belas cerita. Sembilan belas perjalanan hati. Satu buku yang akan membuatmu merasa pulang ... sekaligus tersesat pada kenanganmu sendiri. Dalam kumpulan cerpen ini, kamu akan menemukan potongan hidup yang dekat dengan keseharian.
Hujan sore itu turun tanpa kompromi, deras dan dinginnya seperti suasana di dadaku. Aku duduk di tepi jendela kamar, menatap halaman belakang yang basah oleh air. Suara rintik hujan menabrak genting, ritmenya seperti detak jam dinding di ruang tamu yang seolah tak mau berhenti mengingatkanku bahwa waktu terus berjalan, meski seseorang sudah berhenti di dalamnya. Dia adalah ibuku.
Dan tiga bulan telah berlalu semenjak kepergiannya. Aku masih ingat aroma teh melatinya yang menyegarkan setiap pagi. Suaranya masih terngiang di telingaku saat ia memanggil dari dapur, “Aira, jangan lupa sarapan dulu!” Tapi kini, yang tersisa hanyalah gema. Gema di kepala yang makin pelan, tapi justru semakin menyakitkan. Hari ini seharusnya aku belajar untuk ujian akhir semester. Tapi sejak Ibu pergi, fokusku hilang. Buku-buku itu terbuka hanya sebagai pajangan. Tanganku tidak bertenaga untuk membalik halaman, dan pikiranku melayang ke tempat yang tak bisa ku jangkau lagi – tempat di mana Ibu mungkin sedang tersenyum tanpa rasa sakit.
Ruang tamu rumahku sunyi sore itu. Hanya ada aku dan suara jam yang berdetak lambat. Ayah belum pulang. Semenjak kepergian Ibu, ia jarang bicara. Bahkan mungkin sudah lupa bagaimana cara memeluk anak perempuannya. Aku memandangi rak buku besar di sudut ruangan – rak kayu tua berwarna cokelat yang dulu Ibu rawat dengan penuh cinta. Ia biasa menata buku-buku di sana tiap minggu, menyeka debunya satu per satu. Di rak itu tersimpan novel-novel kesukaannya, beberapa buku resep, dan album foto keluarga. Entah kenapa sore itu langkahku tergerak mendekat. Ada sesuatu di rak buku itu yang terasa memanggil. Mungkin aku hanya merindukannya. Aku menarik napas panjang lalu mulai menyeka debu di bagian tengah rak. Jariku menyusuri deretan buku dengan hati-hati, mencoba menghidupkan kembali kenangan dari tiap sampulnya. Dan di antara tumpukan buku motivasi, aku melihat sebuah buku yang agak miring. Sampulnya berwarna hijau tua dan terdapat sedikit sobekan di bagian tepinya – “Kumpulan Puisi Ibu”, terdapat tulisan tangan di atasnya. Aku tersenyum samar. Aku ingat, itu buku yang Ibu tulis sendiri. Dulu ia suka menulis puisi setiap kali hujan datang. Katanya, hujan membuatnya bisa menangis tanpa harus terlihat. Tapi saat aku menarik buku itu, sesuatu jatuh dari sela halamannya – sebuah amplop kecil berwarna krem, sedikit kusam. Ada tulisan tangan di depan amplop itu. Untuk Aira. Bacalah saat kamu sudah siap. Tanganku bergetar.